MERPATI POS

Written By Luna Maya on Selasa, 18 September 2018 | 06.16




Rambut panjang yang tergerai mengayun lembut seiring gerak tubuh gadis itu. Ia merentangkan telapaknya keluar jendela membasahinya oleh tetes hujan. Mendung menyusup di antara birunya langit, awan hitam mengirim udara dingin. Siang itu gerimis telah membasahi tanah selama dua jam. Gadis itu tak sanggup lagi menanti reda, hatinya ingin bergegas keluar rumah.

Akhirnya, gadis itu keluar menyapa nyanyian rintik hujan, berjalan menyusuri trotar jalan. Rambutnya tak lagi berayun bebas, terbungkus tudung jas hujan warna kuning yang ia kenakan. Gadis itu terdiam melihat orang - orang yang berlarian kecil mencari tempat teduh. Merenungkan hujan yang di benci dan di cinta. Manusia sering meminjam ketenangan dari hujan ketika rintiknya turun dan menghanyutkan mereka dalam merangkai aksara tanap batas, tetapi hujan di benci karena basah.

Bisakah hujan di terima tanpa keluhan, karena takut air? Padahal hujan selalu memberi harapan, untuk setelahnya datang pelangi. Harapan yang selalu gadis itu suarakan sehabis hujan turun.

Berbekal kotak sepatu berisi lembar - lembar kertas, gadis itu berhenti duduk di bangku panjang yang menghadap ke jalan raya di salah satu taman kota. Telapaknya ia rentangkan kembali, gerimis masih mengguyur. Tak peduli sederas apapun hujan turun, gadis itu akan tetap duduk menanti hingga sosok yang membuat janji kepadanya, datang menghampiri.

Tak lama, lelaki berkaos putih menyebrang jalan, duduk di samping gadis itu.

"Dia nggak temui kamu di sini." katanya.
"Andrew?"

Lelaki itu mengangguk lalu mengacak - acak rambutnya yang basah oleh gerimis. "Dia memintaku untuk menemuimu dulu."

 Lelaki itu menoleh, "Alice dengar, mungkin ini memang menyebalkan buat kamu, tapi Andrew harus pergi. Dia melakukannya bukan karena suka tapi terpaksa. Ayahnya keras kepala, Andrew pun sama saja." Jelasnya di sisipi nada kesal bercampur gemas.

 "Aku sudah tahu kok, Ian, Andrew sudah cerita semuanya di surat." Alice tersenyum.

 Ian mendengus kesal. Bahkan Alice sudah tahu namaku? Bagus, dasar mulut besar.

 "Dia untuk saat ini memang hanya pergi sebentar, seminggu katanya, selama liburan masih ada, tapi sepertinya dia akan bolos 3 hari." Ian mengedikkan bahu, "Ayahnya sudah menunggu dia di Amerika. Dan setelah lulus nanti, dia kuliah di sana. Jarang... banget pulang. So, aku berduka kalau harus menunggu Andrew pulang." jelasnya.

 "Kalau memang harus seperti itu mau bagaimana lagi." Alice menunduk, menyimpan suatu rasa yang tidak ingin ia bagi pada Ian. Dukanya lebih pantas untuk di simpan sendiri.




 Ian merasa Alice memiliki daya tarik yang berbeda dari gadis lain. Mengamati ada yang spesial dari gadis itu. Selain bola mata yang saat ini tengah ia amati baik - baik, gadis di sampingnya adalah manusia pecinta semesta. Hal yang menarik Andrew bagai magnet yang terlanjur bertemu kutub yang tepat. Tidak ada celah untuk di pisah.

 "Mata kamu bagus Alice." Ian membenarkan apa yang di katakan Andrew. Mata Alice berwarna biru bukan hitam seperti gadis pribumi lainnya. Biru jernih serupa buih ombak di pantai. Sorotan mata yang bersahabat, benar - benar membuat siapapun betah berlama - lama menatap Alice.

Alice tersenyum kepada Ian, orang yang baginya cukup menyenangkan untuk di ajak berbincang, "Ibuku keturunan Belanda."

 "Oh. Andrew sudah tahu?" tanya Ian.

 Alice menangguk, teringat tulisannya yang berisi cerita unik tentang gadis lugu bermata biru. Cerita yang menggelitik Andrew untuk jujur, dirinya semakin terpesona dengan Alice.

 Keduanya terdiam cukup lama. Hingga kicau burung memberi tahu ada hening yang harus di isi.

 "Kamu hebat lho, bisa bikin Andrew jatuh cinta. Baru kali ini aku lihat dia terpesona sama seseorang. Aku pikir dia nggak normal." Ian tertawa.

 Alice tersenyum lagi, "Tidak ada yang hebat dari aku."

 Justru dia yang hebat, karena telah berhasil meruntuhkan dinding kokoh yang kubangun sejak lama.

 "Dia itu orang sulit di tebak." Ian menerawang sosok sahabatnya yang begitu unik untuk tipe manusia yang sedang jatuh cinta, "Manusia pecinta senja." ujarnya.

 Kalian sama - sama mencintai semesta hingga keterlaluan, sampai ketika tiba di titik persimpampangan kalian berdua saling jatuh cinta dan lupa dengan segala logika.

Keduanya terdiam lagi. Kali ini gerimis yang redalah yang menyadarkan mereka, ada kalimat yang harus di utarakan.

 Sambil melihat langit yang berangsur cerah Ian berbicara, "Kamu temui dia di taman Anggrek, Andrew cerita, dia lihat kamu pertama kali di sana. Kamu tunggu di bangku dekat pohon Kamboja, jadi Andrew bisa lihat dari jalan, kalau kamu sudah datang."

 Alice tersenyum lagi, kali ini terlihat sumringah, "Terimakasih Ian."

 Gadis itu bangkit, mulai menyusuri setapaknya lagi yang akan mempertemukannya dengan Andrew.

"Alice tunggu sebentar," Ian menghentikan langkah Alice, "buat kamu, baca kalau dia sudah pergi." Ian memberikan sepucuk amplop putih kepada Alice.

Alice mangangguk sekilas, membayangkan isi surat yang terasa ganjil saat jatuh ke telapaknya. Kemudian gadis itu berlalu meninggalkan Ian yang melihatnya dari jauh. Berpikir ada suatu hal yang menarik perhatian Ian terhadap Alice. Entah apa itu namun sampai usai memandang gadis itu, Ian tidak tahu, dan kelelahan mencari tahu.

***********

Jas hujannya telah di lipat kembali di simpan dalam tas, karena ia ingin menyambut damai sehabis hujan. Mungin nanti pelangi akan datang, itu yang ia pikirkan.

Langkahnya terasa ringan karena risau yang di keluhkan lenyap, wajah lelaki yang ia tiupkan namanya ke celah - celah udara akan Alice tatap hari ini. Di hari yang sudah menjelang sore. Jalanan sepi sore itu, orang - orang yang berteduh dari gerimis, termenung duduk di temani secangkir minuman hangat. Terbuai menatap garis oranye yang meluruh perlahan dari jendela.

Bangku panjang yang di naungi pohon kamboja berbunga putih, sudah terlihat.

Angin bertiup kencang menggoyangkan dahan pepohoan, merontokkan dedaunan kering. Satu demi bunga kamboja jatuh tergeletak di jalan yang basah. Alice menutup mata, terkesiap di hantam angin. Kotak sepatunya jatuh, betapa di hantam perasaan bersalah kala ia memandang surat - surat dari lelaki pujaannya terbang, begitu tinggi. Berputar - putar di udara.

Sosok yang baru tiba di dekat bangku panjang, menoleh mendengar riuh angin. Menahan geli ketika melihat gadis berambut panjang melompat - lompat menggapai kertas - kertas yang berterbangan. Alice menoleh mendengar tawa seseorang.

Keduanya saling bertatapan dan terdiam.

Menyadari lembar - lembar itu berharga, keduanya berlarian mengejar, menangkap surat - surat yang menjadi bukti bahwa yang di nanti telah datang.

Lembar - lembar itu terkumpul, tanpa kurang, terselamatkan sebelum jatuh ke jejak air.

Rambut Alice yang di mainkan angin mengayun seirama langkahnya mendekati lelaki yang berdiri tersenyum kepadanya. Lelaki itu menyerahkan lembar - lembar tadi pada Alice. Alice menerimanya memasukkan kembali dalam kotak sepatu. Lantas Alice bertanya dalam benak, Inikah yang di sebut bahagai sederhana itu? Kala aku bisa memandang wajahmu?

"Lain kali hati - hati. Kotakmu seharusnya di tutup lebih rapat."

Alice menggaguk, mengatup mulutnya lantas menampilkan senyum ragu.

"Hai, Alice."
"Hai, Andrew." Terbata Alice menyapa.

Andrew tidak tahu basa - basi apa yang pantas mewakili perbicangannya dengan Alice. Entah karena gugup atau terlalu terpesona dengan wajah gadis bermata biru yang berjarak dekat dengannya, Andrew kehilangan kata. Semua yang ia susun dalam khayalnya sirna di hempas angin yang masih berhembus.

"Sekarang senja terasa berbeda. Karena kamu menjadi pusat perhatian dari semua keindahan yang aku lihat." Senja yang menggaris warna oranye di langit, tak lagi mencuri perhatiannya. Andrew hanya ingin terpukau memandang Alice, Sang Dewi yang di puja.

Alice tersenyum, hanya itu yang bisa ia beri.

"Siapa nama panjangmu? Jangan bilang kamu si Alice in Wonderland." Andrew tertawa, Alice menikmati momen singkat itu.

Alice tertawa geli, "Hah? Kenapa aku harus beritahu sekarang, bukankah ini perpisahan kita?"

"Kamu benar, belum saatnya."

Perlahan Andrew membelai pipi Alice yang dingin dan bersemu. Alice membiarkan jemari Andrew menelusuri apapun yang di suka, ia hanya memberi senyum termanis, hingga lelaki di hadapannya bepikir itulah senyum terindah dari gadis yang di cinta.

"Aku minta maaf karena harus pergi, meninggalkanmu Alice, maksudku... " Andrew kelu untuk bicara, "aku minta maaf karena surat - suratku, kamu..."
"Kamu tidak perlu minta maaf. Minta maaf karena surat dan pertaruhanmu itu. Aku senang berkenalan denganmu, Andrew. Senang merpatimu hinggap ke jendela. Kamu dan surat - suratmu, telah membuatku tidak lagi menjadi abu - abu. Ada warna dalam diriku yang kamu ciptakan. Melebihi terdampar di hamparan berrumput kamu lebih indah." Alice menjemput tangan Andrew yang berhenti mengusap bibirnya.

"Berat untukku meninggalkanmu, aku tidak bisa memastikan kapan kita bisa bertemu lagi."
"Lebih berat dari yang kurasa, aku harus menjadi penanti atas kepulanganmu." Alice tersenyum kecut.

Menanti adalah hal yang paling di benci manusia, begitu juga yang aku tak terhitung berkali - kali meghindarinya. Tetapi aku sadar, pada akhirnya aku akan tiba di situasi ini.

Keduanya menggenggam tangan erat saling berpandangan, ingin memberi sentuhan namun enggan.

Alice berpikir, apa rasaku sudah terbalas?

Aku ingin menyentuhmu gadis bermata biru, tapi kau masih jauh dari jangkauanku. Andrew menggumam dalam hati.

"Aku ingin menyelesaikan pertaruhan ini dan menjadi pemenang. Aku mohon izinkan aku menuntaskannya. Tunggu aku kembali."
"Tentu aku akan menunggu, walau entah akan sesakit apa nanti. Aku akan bertahan. Selesaikan pertaruhan itu, dan buat semua waktu terbayar dengan baik. Karena aku ingin bersenang - senang denganmu."

Andrew merengkuh Alice yang tingginya hanya sebahunya. Tubuh ramping yang menghangatkan dirinya seketika. Di sorot sinar senja serta terpaan angin, Andrew membelai rambut panjang Alice, menyadari ini bukanlah perpisahan. Namun awal. Alice tidak berkutik hanya diam, meremas kotak sepatunya. Suaranya telah di rampas oleh rasa yang terlalu indah untuk dirinya. Ia mengerti dirinya memang telah jatuh ke pelukan Andrew sejak lama. Hati Alice yang nyaman membiarkan momen menikmati senja bersama kekasih, bergulir. Tetapi, akan ada sendu setelahnya dan Alice tahu rasanya pasti menyakitkan.

"Jangan menangis." Andrew menyeka air mata Alice, mengankat wajah gadis itu.

Alice menggeleng, ringkuh untuk mengaku sedihnya.

"Saat aku pulang, kita akan bersenang - senang." Kata Andrew.

Memandang senja, terdampar di hamparan rumput, menikmati kehenigan total, semua akan kita lakukan bersama, iya kan?

Andrew menangkup wajah Alice, memberi seberkas kecupan di kening gadis itu. Genggaman keduanya merapuh, pelahan pergi meninggalkan rasa yang akan di simpan. Waktunya habis, Andrew tidak bisa lagi menetap meski hanya untuk menenangkan perasaan Sang Dewi. Alice merelakan Andrew berjalan mendekati mobil hitam yang terpakir di pinggir jalan. Mobil itu pun melaju menuju bandara.


(Baca Juga cerita kami Selanjutnya)





Ayo Daftar disini GaleriQQ Segera Gabung dan Dapatkan Promo Terbesar Bonus Rollingan 0.5% Setiap Minggu nya (diproses setiap hari Selasa) Bonus Refferal 20% Terbesar Seumur Hidup Tanpa Syarat Apapun Contact Us : BBM : D60A983B Wa : +855968017703 Line : csgaleriqq #aduQ

Share this article :

2 komentar:

  1. Menangkan Jutaan Rupiah dan Dapatkan Jackpot Hingga Puluhan Juta Dengan Bermain di www(.)SmsQQ(.)com

    Kelebihan dari Agen Judi Online SmsQQ :
    -Situs Aman dan Terpercaya.
    - Minimal Deposit Hanya Rp.10.000
    - Proses Setor Dana & Tarik Dana Akan Diproses Dengan Cepat (Jika Tidak Ada Gangguan).
    - Bonus Turnover 0.3%-0.5% (Disetiap Harinya)
    - Bonus Refferal 20% (Seumur Hidup)
    -Pelayanan Ramah dan Sopan.Customer Service Online 24 Jam.
    - 4 Bank Lokal Tersedia : BCA-MANDIRI-BNI-BRI

    8 Permainan Dalam 1 ID :
    Poker - BandarQ - DominoQQ - Capsa Susun - AduQ - Sakong - Bandar Poker - Bandar66

    Info Lebih Lanjut Hubungi Kami di :
    BBM: 2AD05265
    WA: +855968010699
    Skype: smsqqcom@gmail.com

    BalasHapus
  2. Cari Situs Judi Online Terpercaya? Teraman? Banyak Bonusnya?
    Di Sini Tempatnya.

    ZumaQQ.com Agen Bandarq Domino 99 Bandar Poker Online Terpercaya

    Hanya 4 Tahapan Kemenangan yang MUDAH di ZumaQQ
    Daftar > Depo > Main > Menang!
    Deposit minimal Rp. 20.000,-
    Anda Bisa Menjadi JUTAWAN? Kenapa Tidak?
    Dengan 1 ID sudah bisa bermain 8 Jenis Permainan
    * BandarQ (HOT)
    * Bandar 66 (New Hot)
    * Bandar Poker
    * Sakong Online
    * Domino QQ
    * Adu Q
    * Poker
    * Capsa Susun
    Ada Juga Bonus Terhot Se-Indonesia
    Bonus Turnover 0,5%
    Bonus Refferal 10% + 10%
    Bonus Extra Refferal 5%
    Yuk gabung bersama kami dan Jadilah Jutawan Berikutnya!
    Website : ZumaQQ
    BBM : ZumaQQ
    WA : +6281218571961
    Line : ZumaQQ
    Facebook 1 : ZumaQQ
    Twitter : ZumaQQ
    Blog 1 : ZumaQQ
    Blog 2 : ZumaQQ

    BalasHapus

NAMA DP & WD DAFTAR
HondaQQ
Rp 15.000
KLIK DI SINI
GaleriQQ
Rp 20.000
KLIK DI SINI
Kasir4D
Rp 10.000
KLIK DI SINI

Popular Posts

Arsip Blog

Labels

 
Support :
Created by Agen BandarQ, BandarQ, Domino 99
, Bandar Sakong
, Sakong Online
Copyright © 2013. GaleriQQ agenbandarQ Terpercaya - All Rights Reserved